Praktek Kerja Industri SMKN 9 Bandung

[vc_row][vc_column][vc_column_text]Informasi Praktek Kerja Industri SMKN 9 Bandung [/vc_column_text][/vc_column][/vc_row]

Prakerin adalah pembelajaran yang dilaksanakan di Industri dalam waktu yang sudah ditentukan untuk mencapai kompetensi yang dipersyaratkan.

Kompetensi adalah kemampuan peserta diklat yang diukur melalui aspek Pengetahuan, Keterampilan dan Sikap.Dunia Usaha  / Dunia Industri adalah tempat lulusan bekerja. Institusi Pasangan adalah Dunia Usaha / Dunia Industri / Instansi terkait yang menjadi pasangan sekolah untuk melatih peserta diklat memenuhi kompetensi yang dipersyaratkan

Pada dasarnya Praktik Kerja Industri (Prakerin) adalah suatu model penyelenggaraan pendidikan yang memadukan secara utuh dan terintegrasi kegiatan belajar siswa di sekolah dengan proses penguasaan keahlian kejuruan melalui bekerja langsung di lapangan kerja. Metode tersebut dilaksanakan dalam rangka peningkatan mutu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) untuk mencapai relevansi antara pendidikan dengan kebutuhan tenaga kerja. Harapan utama dan kegiatan prakerin ini disamping meningkatkan keahlian profesional siswa agar sesuai dengan tuntutan kebutuhan tenaga kerja juga agar siswa memiliki etos kerja yang meliputi: kemampuan bekerja, motivasi kerja, inisiatif, kreatif, hasil pekerjaan yang berkualitas, disiplin waktu, dan kerajinan dalam bekerja.

Tujuan Prakerin

Secara umum PRAKERIN bertujuan untuk membentuk profesionalitas calon tenaga kerja.Profesionalitas tenaga kerja mencakup tiga kompetensi, yaitu kompetensi profesional, personal dan sosial.Ketiga kompetensi tersebut ingin diwujudkan melalui kegiatan PRAKERIN siswa SMK Negeri 9 Bandung.

Secara rinci PRAKERIN bertujuan agar siswa SMK Negeri 9 Bandung  :

1. Menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keahlian profesional, yaitu tenaga kerja yang memiliki tingkat pengetahuan, keterampilan dan etos klerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja.

 2. Memperkokoh hubungan keterkaitan dan kesepadanan (Link and Match) antara SMK dan dunia kerja.

 3. Meningkatkan efisiensi proses pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang berkualitas profesional.

4. Memberi pengakuan dan pengahargaan terhadap pengalaman kerja sebagai bagian dari proses pendidikan.